Sholeh Nugroho
2381130808
Moch Roziqin
2381130794
Lulu’ul Jannah
2381130792
Ali Mahfudz A
2381130782
Dosen Pembimbing: Dr. Siti Maryam Munjilat, S.S.,M.Pd.I
Abstract. This study aims to identify the challenges and solutions in implementing the Merdeka Curriculum, particularly in differentiated learning of Islamic Religious Education (PAI) and the strengthening of the Pancasila Student Profile at Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muchtariah Singkut. This research employed a descriptive qualitative method, with data collected through interviews with three teachers at MDA Muchtariah Singkut: Mrs. Devi, Mr. Nyoto, and Mrs. Mar'atus. The findings indicate that the implementation of the Merdeka Curriculum at MDA Muchtariah Singkut remains difficult because the madrasah diniyah functions as a supplementary institution to formal education rather than as the primary educational institution. The learning focus at MDA is primarily directed toward Quranic reading and writing and basic fiqh (Islamic jurisprudence), making it challenging to fully apply the curriculum mandated by the Ministry of Religious Affairs. Furthermore, classes are held in the afternoon (from 2 to 4 PM), after students are already tired from attending formal schools, which negatively impacts their concentration and learning motivation. Another challenge is the diversity of students' educational backgrounds, as they come from various types of elementary schools—public schools (SDN), Islamic schools (MI), and Islamic integrated schools (SDIT)—resulting in significant differences in their prior understanding of PAI materials.
Keywords: Mini Research, Merdeka Curriculum, Differentiated Learning, Pancasila Student Profile, Madrasah Diniyah.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dan solusi penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pembelajaran diferensiasi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan penguatan Profil Pelajar Pancasila di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muchtariah Singkut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada tiga orang guru MDA Muchtariah Singkut, yaitu Ibu Devi, Bapak Nyoto, dan Ibu Mar’atus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut masih sulit dilakukan karena madrasah diniyah berperan sebagai lembaga pendukung dari pendidikan formal, bukan sebagai lembaga utama. Fokus pembelajaran MDA lebih diarahkan pada baca tulis Al-Qur’an dan fiqih dasar, sehingga muatan kurikulum dari Kementerian Agama (Depag) sering kali sulit diterapkan secara utuh. Selain itu, pembelajaran dilaksanakan pada sore hari (jam 2-4) setelah siswa lelah mengikuti sekolah formal, yang berdampak pada konsentrasi dan motivasi belajar. Tantangan lainnya adalah keragaman latar belakang pendidikan siswa yang berasal dari SDN, MI, dan SDIT, sehingga tingkat pemahaman awal mereka terhadap materi PAI sangat berbeda.
Kata Kunci: Mini Riset, Kurikulum Merdeka, Pembelajaran Diferensiasi, Profil Pelajar Pancasila, Madrasah Diniyah.
1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang bertujuan memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi satuan pendidikan dalam merancang pembelajaran(Fahira dkk., 2022)[1]. Kurikulum ini menekankan pada pembelajaran diferensiasi yang mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik serta penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai karakter utama lulusan. Namun, penerapan Kurikulum Merdeka tidak hanya berlaku di sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan nonformal seperti madrasah diniyah.
Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut merupakan lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang berfungsi sebagai pelengkap bagi pendidikan formal. Berbeda dengan sekolah formal yang memiliki alokasi waktu panjang, madrasah diniyah hanya memiliki waktu terbatas di sore hari. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengimplementasikan kurikulum yang sebenarnya dirancang untuk sekolah formal dengan jam belajar yang lebih panjang.
Berdasarkan observasi awal, penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut masih menemui berbagai kendala. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi serta mencari solusi yang tepat agar kurikulum ini tetap dapat memberikan manfaat bagi peserta didik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Apa saja tantangan yang dihadapi dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya pembelajaran diferensiasi PAI dan penguatan Profil Pelajar Pancasila di MDA Muchtariah Singkut?
Bagaimana solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
Mengidentifikasi tantangan penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut.
Menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan tersebut.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif(Dini, Novianti, & Setiawan, 2023)[2]. Metode ini dipilih karena peneliti ingin menggambarkan secara nyata situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan terkait penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada tiga orang guru MDA Muchtariah Singkut, yaitu:
Ibu Devi (Guru Al-Qur’an)
Bapak Nyoto (Guru Fiqih)
Ibu Mar’atus (Guru Akhlak)
Wawancara dilaksanakan pada bulan April 2026. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi langsung terhadap proses pembelajaran di kelas dan studi dokumentasi terhadap kurikulum yang digunakan.
Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah yang berlokasi di Singkut, Kabupaten Singkut.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Gambaran Umum MDA Muchtariah Singkut
Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut merupakan lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang berfungsi sebagai pendukung bagi pendidikan formal. Peserta didiknya adalah anak-anak usia SD/MI yang pada pagi hingga siang hari bersekolah di sekolah formal (SDN, MI, atau SDIT), kemudian melanjutkan ke MDA pada sore hari mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.
Fokus utama pembelajaran di MDA adalah baca tulis Al-Qur’an dan fiqih dasar, seperti tata cara wudhu, salat, dan doa sehari-hari. Kurikulum yang digunakan mengacu pada pedoman dari Kementerian Agama, namun sering kali disederhanakan karena keterbatasan waktu dan kondisi peserta didik.
3.2 Tantangan Penerapan Kurikulum Merdeka
Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga narasumber, berikut adalah tantangan utama yang dihadapi:
a. Posisi MDA sebagai Lembaga Pendukung
Ibu Devi menyatakan bahwa madrasah diniyah hanya berperan sebagai pelengkap, bukan lembaga pendidikan utama. Hal ini membuat penerapan kurikulum yang kompleks seperti Kurikulum Merdeka menjadi sulit karena waktu dan fokus pembelajaran sangat terbatas.
"Madin ini kan hanya pendukung dari sekolah formal. Anak-anak sudah lelah belajar dari pagi, jadi kami tidak bisa memberi materi yang terlalu berat atau rumit." (Ibu Devi, wawancara, April 2026).
b. Keterbatasan Waktu Belajar
Pembelajaran di MDA dilaksanakan pada sore hari, tepatnya jam 2 sampai 4. Pada waktu tersebut, peserta didik umumnya sudah merasa lelah setelah seharian mengikuti pelajaran di sekolah formal. Hal ini berdampak pada konsentrasi dan motivasi belajar mereka.
Bapak Nyoto mengungkapkan:
"Jam 2 sore anak-anak baru sampai dari sekolah. Banyak yang masih pakai seragam, belum ganti, dan terlihat capek. Jadi kami lebih banyak pakai metode santai seperti membaca bersama atau menghafal doa pendek." (Bapak Nyoto, wawancara, April 2026).
c. Keragaman Latar Belakang Pendidikan Siswa
Peserta didik MDA Muchtariah berasal dari berbagai sekolah formal, yaitu SDN, MI, dan SDIT. Perbedaan kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut menyebabkan tingkat pemahaman awal siswa terhadap materi PAI sangat bervariasi.
Ibu Mar’atus menjelaskan:
"Ada anak dari SDIT yang sudah hafal surat pendek dan tahu fiqih dasar, tapi ada juga dari SDN yang masih belajar membaca Iqro. Jadi kami harus menyamakan dulu, baru naik ke materi berikutnya." (Ibu Mar’atus, wawancara, April 2026).
d. Kurikulum dari Depag Sulit Diterapkan Secara Utuh
Kurikulum dari Kementerian Agama yang seharusnya menjadi acuan sering kali terlalu padat untuk diterapkan di MDA. Materi yang dirancang untuk pembelajaran sepanjang minggu harus disesuaikan dengan waktu yang hanya beberapa jam setiap hari.
e. Pembelajaran Diferensiasi Sulit Dilakukan
Karena jumlah guru yang terbatas dan kondisi siswa yang sudah lelah, penerapan pembelajaran diferensiasi—yang mengharuskan guru menyediakan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan siswa—menjadi sulit dilakukan. Guru cenderung menggunakan metode klasikal karena lebih praktis dan efisien.
3.3 Solusi yang Dapat Diterapkan
Berdasarkan tantangan-tantangan di atas, berikut adalah solusi yang dapat diterapkan:
a. Menyesuaikan Kurikulum dengan Karakteristik MDA
Kurikulum dari Depag perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan kondisi MDA. Materi yang dianggap terlalu berat dapat dipilih sebagian yang paling esensial, seperti penguatan baca tulis Al-Qur’an dan pembiasaan ibadah harian.
b. Memanfaatkan Waktu Sore dengan Metode Santai dan Menyenangkan
Agar siswa tidak merasa terbebani, pembelajaran dapat dikemas dengan metode yang lebih santai dan menyenangkan, seperti bernyanyi, bermain peran (role play), atau bercerita. Hal ini penting untuk menjaga semangat belajar anak meskipun dalam kondisi lelah.
c. Melakukan Asesmen Awal untuk Pemetaan Kemampuan Siswa
Sebelum memulai pembelajaran, guru dapat melakukan asesmen awal sederhana untuk mengetahui kemampuan baca Al-Qur’an dan pemahaman fiqih siswa. Hasil asesmen ini digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuannya (pembelajaran diferensiasi tingkat dasar).
d. Kolaborasi dengan Sekolah Formal
MDA dapat menjalin komunikasi dengan sekolah formal asal siswa untuk menyelaraskan materi. Misalnya, jika di sekolah formal siswa sedang belajar tentang wudhu, maka di MDA materi tersebut dapat diperkuat dengan praktik langsung.
e. Penguatan Peran Guru melalui Pelatihan Sederhana
Guru MDA perlu diberikan pelatihan tentang metode pembelajaran yang efektif untuk kondisi sore hari, serta cara sederhana menerapkan diferensiasi pembelajaran meskipun dengan sumber daya terbatas.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mini riset ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut menghadapi berbagai tantangan. Tantangan utama meliputi posisi MDA sebagai lembaga pendukung pendidikan formal, keterbatasan waktu belajar di sore hari, keragaman latar belakang pendidikan siswa, sulitnya menerapkan kurikulum Depag secara utuh, serta keterbatasan guru dalam melaksanakan pembelajaran diferensiasi.
Namun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi dengan solusi seperti penyesuaian kurikulum, penggunaan metode pembelajaran yang santai dan menyenangkan, asesmen awal untuk pemetaan kemampuan siswa, kolaborasi dengan sekolah formal, serta penguatan kapasitas guru melalui pelatihan sederhana.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi madrasah diniyah lain yang memiliki karakteristik serupa dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.
5. Daftar Pustaka
[1] Fahira, W. R., dkk. (2022). Persepsi Siswa Kelas X Terhadap Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. JURNAL EDUSCIENCE, 9(3), 902–909.
[2] Dini, A. R., Novianti, D., & Setiawan, F. (2023). Mini Riset: Pengimplementasian Kurikulum Merdeka Belajar di Kelas X SMA Negeri 1 Lendah, Kulon Progo. Jurnal Pendidikan, 1(6).
Lampiran: Hasil Wawancara Singkat
Ibu Devi
"Madin ini hanya pendukung dari sekolah formal. Anak-anak sudah lelah belajar dari pagi."
Bapak Nyoto
"Jam 2 sore anak-anak baru sampai. Banyak yang masih pakai seragam dan terlihat capek."
Ibu Mar’atus"Ada anak dari SDIT yang sudah hafal, ada dari SDN yang masih belajar Iqro. Jadi kami harus menyamakan dulu."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar