Kamis, 23 April 2026

Mini Riset Tantangan dan Solusi Penerapan Kurikulum Merdeka: Studi Kasus Pembelajaran Diferensiasi PAI dan Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut

 



Sholeh Nugroho

2381130808

 

Moch Roziqin

2381130794

 

Lulu’ul Jannah

2381130792

 

Ali Mahfudz A

2381130782

 

Dosen Pembimbing: Dr. Siti Maryam Munjilat, S.S.,M.Pd.I


Abstract. This study aims to identify the challenges and solutions in implementing the Merdeka Curriculum, particularly in differentiated learning of Islamic Religious Education (PAI) and the strengthening of the Pancasila Student Profile at Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muchtariah Singkut. This research employed a descriptive qualitative method, with data collected through interviews with three teachers at MDA Muchtariah Singkut: Mrs. Devi, Mr. Nyoto, and Mrs. Mar'atus. The findings indicate that the implementation of the Merdeka Curriculum at MDA Muchtariah Singkut remains difficult because the madrasah diniyah functions as a supplementary institution to formal education rather than as the primary educational institution. The learning focus at MDA is primarily directed toward Quranic reading and writing and basic fiqh (Islamic jurisprudence), making it challenging to fully apply the curriculum mandated by the Ministry of Religious Affairs. Furthermore, classes are held in the afternoon (from 2 to 4 PM), after students are already tired from attending formal schools, which negatively impacts their concentration and learning motivation. Another challenge is the diversity of students' educational backgrounds, as they come from various types of elementary schools—public schools (SDN), Islamic schools (MI), and Islamic integrated schools (SDIT)—resulting in significant differences in their prior understanding of PAI materials.

 

Keywords: Mini Research, Merdeka Curriculum, Differentiated Learning, Pancasila Student Profile, Madrasah Diniyah.

 

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tantangan dan solusi penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pembelajaran diferensiasi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan penguatan Profil Pelajar Pancasila di Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muchtariah Singkut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada tiga orang guru MDA Muchtariah Singkut, yaitu Ibu Devi, Bapak Nyoto, dan Ibu Mar’atus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut masih sulit dilakukan karena madrasah diniyah berperan sebagai lembaga pendukung dari pendidikan formal, bukan sebagai lembaga utama. Fokus pembelajaran MDA lebih diarahkan pada baca tulis Al-Qur’an dan fiqih dasar, sehingga muatan kurikulum dari Kementerian Agama (Depag) sering kali sulit diterapkan secara utuh. Selain itu, pembelajaran dilaksanakan pada sore hari (jam 2-4) setelah siswa lelah mengikuti sekolah formal, yang berdampak pada konsentrasi dan motivasi belajar. Tantangan lainnya adalah keragaman latar belakang pendidikan siswa yang berasal dari SDN, MI, dan SDIT, sehingga tingkat pemahaman awal mereka terhadap materi PAI sangat berbeda.

 

Kata Kunci: Mini Riset, Kurikulum Merdeka, Pembelajaran Diferensiasi, Profil Pelajar Pancasila, Madrasah Diniyah.

 

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan terbaru dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang bertujuan memberikan kebebasan dan fleksibilitas bagi satuan pendidikan dalam merancang pembelajaran(Fahira dkk., 2022)[1]. Kurikulum ini menekankan pada pembelajaran diferensiasi yang mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik serta penguatan Profil Pelajar Pancasila sebagai karakter utama lulusan. Namun, penerapan Kurikulum Merdeka tidak hanya berlaku di sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan nonformal seperti madrasah diniyah.

Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut merupakan lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang berfungsi sebagai pelengkap bagi pendidikan formal. Berbeda dengan sekolah formal yang memiliki alokasi waktu panjang, madrasah diniyah hanya memiliki waktu terbatas di sore hari. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengimplementasikan kurikulum yang sebenarnya dirancang untuk sekolah formal dengan jam belajar yang lebih panjang.

Berdasarkan observasi awal, penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut masih menemui berbagai kendala. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi serta mencari solusi yang tepat agar kurikulum ini tetap dapat memberikan manfaat bagi peserta didik.

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya pembelajaran diferensiasi PAI dan penguatan Profil Pelajar Pancasila di MDA Muchtariah Singkut?

Bagaimana solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut?

 

 

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

Mengidentifikasi tantangan penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut.

Menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi tantangan tersebut.

 

 

2. Metode Penelitian

 

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif(Dini, Novianti, & Setiawan, 2023)[2]. Metode ini dipilih karena peneliti ingin menggambarkan secara nyata situasi dan kondisi yang terjadi di lapangan terkait penerapan Kurikulum Merdeka di MDA Muchtariah Singkut.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada tiga orang guru MDA Muchtariah Singkut, yaitu:

Ibu Devi (Guru Al-Qur’an)

Bapak Nyoto (Guru Fiqih)

Ibu Mar’atus (Guru Akhlak)

Wawancara dilaksanakan pada bulan April 2026. Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi langsung terhadap proses pembelajaran di kelas dan studi dokumentasi terhadap kurikulum yang digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah yang berlokasi di Singkut, Kabupaten Singkut.

 

3.     Hasil dan Pembahasan

 

3.1 Gambaran Umum MDA Muchtariah Singkut

Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut merupakan lembaga pendidikan keagamaan nonformal yang berfungsi sebagai pendukung bagi pendidikan formal. Peserta didiknya adalah anak-anak usia SD/MI yang pada pagi hingga siang hari bersekolah di sekolah formal (SDN, MI, atau SDIT), kemudian melanjutkan ke MDA pada sore hari mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB.

Fokus utama pembelajaran di MDA adalah baca tulis Al-Qur’an dan fiqih dasar, seperti tata cara wudhu, salat, dan doa sehari-hari. Kurikulum yang digunakan mengacu pada pedoman dari Kementerian Agama, namun sering kali disederhanakan karena keterbatasan waktu dan kondisi peserta didik.

 

3.2 Tantangan Penerapan Kurikulum Merdeka

Berdasarkan hasil wawancara dengan tiga narasumber, berikut adalah tantangan utama yang dihadapi:

a. Posisi MDA sebagai Lembaga Pendukung

Ibu Devi menyatakan bahwa madrasah diniyah hanya berperan sebagai pelengkap, bukan lembaga pendidikan utama. Hal ini membuat penerapan kurikulum yang kompleks seperti Kurikulum Merdeka menjadi sulit karena waktu dan fokus pembelajaran sangat terbatas.

"Madin ini kan hanya pendukung dari sekolah formal. Anak-anak sudah lelah belajar dari pagi, jadi kami tidak bisa memberi materi yang terlalu berat atau rumit." (Ibu Devi, wawancara, April 2026).

 

b. Keterbatasan Waktu Belajar

Pembelajaran di MDA dilaksanakan pada sore hari, tepatnya jam 2 sampai 4. Pada waktu tersebut, peserta didik umumnya sudah merasa lelah setelah seharian mengikuti pelajaran di sekolah formal. Hal ini berdampak pada konsentrasi dan motivasi belajar mereka.

Bapak Nyoto mengungkapkan:

"Jam 2 sore anak-anak baru sampai dari sekolah. Banyak yang masih pakai seragam, belum ganti, dan terlihat capek. Jadi kami lebih banyak pakai metode santai seperti membaca bersama atau menghafal doa pendek." (Bapak Nyoto, wawancara, April 2026).

 

c. Keragaman Latar Belakang Pendidikan Siswa

Peserta didik MDA Muchtariah berasal dari berbagai sekolah formal, yaitu SDN, MI, dan SDIT. Perbedaan kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah-sekolah tersebut menyebabkan tingkat pemahaman awal siswa terhadap materi PAI sangat bervariasi.

Ibu Mar’atus menjelaskan:

"Ada anak dari SDIT yang sudah hafal surat pendek dan tahu fiqih dasar, tapi ada juga dari SDN yang masih belajar membaca Iqro. Jadi kami harus menyamakan dulu, baru naik ke materi berikutnya." (Ibu Mar’atus, wawancara, April 2026).

 

d. Kurikulum dari Depag Sulit Diterapkan Secara Utuh

Kurikulum dari Kementerian Agama yang seharusnya menjadi acuan sering kali terlalu padat untuk diterapkan di MDA. Materi yang dirancang untuk pembelajaran sepanjang minggu harus disesuaikan dengan waktu yang hanya beberapa jam setiap hari.

 

e. Pembelajaran Diferensiasi Sulit Dilakukan

Karena jumlah guru yang terbatas dan kondisi siswa yang sudah lelah, penerapan pembelajaran diferensiasi—yang mengharuskan guru menyediakan berbagai pendekatan sesuai kebutuhan siswa—menjadi sulit dilakukan. Guru cenderung menggunakan metode klasikal karena lebih praktis dan efisien.

 

3.3 Solusi yang Dapat Diterapkan

Berdasarkan tantangan-tantangan di atas, berikut adalah solusi yang dapat diterapkan:

a. Menyesuaikan Kurikulum dengan Karakteristik MDA

Kurikulum dari Depag perlu disederhanakan dan disesuaikan dengan kondisi MDA. Materi yang dianggap terlalu berat dapat dipilih sebagian yang paling esensial, seperti penguatan baca tulis Al-Qur’an dan pembiasaan ibadah harian.

 

b. Memanfaatkan Waktu Sore dengan Metode Santai dan Menyenangkan

Agar siswa tidak merasa terbebani, pembelajaran dapat dikemas dengan metode yang lebih santai dan menyenangkan, seperti bernyanyi, bermain peran (role play), atau bercerita. Hal ini penting untuk menjaga semangat belajar anak meskipun dalam kondisi lelah.

 

c. Melakukan Asesmen Awal untuk Pemetaan Kemampuan Siswa

Sebelum memulai pembelajaran, guru dapat melakukan asesmen awal sederhana untuk mengetahui kemampuan baca Al-Qur’an dan pemahaman fiqih siswa. Hasil asesmen ini digunakan untuk mengelompokkan siswa berdasarkan tingkat kemampuannya (pembelajaran diferensiasi tingkat dasar).

 

d. Kolaborasi dengan Sekolah Formal

MDA dapat menjalin komunikasi dengan sekolah formal asal siswa untuk menyelaraskan materi. Misalnya, jika di sekolah formal siswa sedang belajar tentang wudhu, maka di MDA materi tersebut dapat diperkuat dengan praktik langsung.

 

e. Penguatan Peran Guru melalui Pelatihan Sederhana

Guru MDA perlu diberikan pelatihan tentang metode pembelajaran yang efektif untuk kondisi sore hari, serta cara sederhana menerapkan diferensiasi pembelajaran meskipun dengan sumber daya terbatas.

 

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mini riset ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Diniyah Awaliyah Muchtariah Singkut menghadapi berbagai tantangan. Tantangan utama meliputi posisi MDA sebagai lembaga pendukung pendidikan formal, keterbatasan waktu belajar di sore hari, keragaman latar belakang pendidikan siswa, sulitnya menerapkan kurikulum Depag secara utuh, serta keterbatasan guru dalam melaksanakan pembelajaran diferensiasi.

Namun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi dengan solusi seperti penyesuaian kurikulum, penggunaan metode pembelajaran yang santai dan menyenangkan, asesmen awal untuk pemetaan kemampuan siswa, kolaborasi dengan sekolah formal, serta penguatan kapasitas guru melalui pelatihan sederhana.

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi madrasah diniyah lain yang memiliki karakteristik serupa dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka.

 

5. Daftar Pustaka

[1] Fahira, W. R., dkk. (2022). Persepsi Siswa Kelas X Terhadap Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. JURNAL EDUSCIENCE, 9(3), 902–909.

[2] Dini, A. R., Novianti, D., & Setiawan, F. (2023). Mini Riset: Pengimplementasian Kurikulum Merdeka Belajar di Kelas X SMA Negeri 1 Lendah, Kulon Progo. Jurnal Pendidikan, 1(6).

Lampiran: Hasil Wawancara Singkat

Ibu Devi

"Madin ini hanya pendukung dari sekolah formal. Anak-anak sudah lelah belajar dari pagi."


Bapak Nyoto

"Jam 2 sore anak-anak baru sampai. Banyak yang masih pakai seragam dan terlihat capek."


Ibu Mar’atus"Ada anak dari SDIT yang sudah hafal, ada dari SDN yang masih belajar Iqro. Jadi kami harus menyamakan dulu."

Minggu, 19 Juli 2020

Dikekang Untuk Menang !


Saat pertama kali saya berangkat kepondok, tepatnya pada 21 Juli 2016. Rasanya sangat berat sekali bagi saya untuk meninggalkan kampung halaman. Tapi karena ada dorongan yang kuat dari diri dan juga dorongan dari orang tua, akhirnya saya tetap berangkat walau dengan hati yang berat. Isak tangispun tidak bisa dibendung, mengiringi perjalanan saya menuju pondok.

Saat dipondokpun saya masih sering merasa sedih, maklum santri baru. Tapi saya selalu mencoba untuk kuat dan selalu tersenyum agar saya bisa kerasan serta tidak sedih lagi. Beberapa hari kemudian Bapak yang mengantar saya untuk mondok pun pamit untuk pulang kerumah. Saat itulah saya mulai kerasan.

Dimulai dari sinilah saya mulai mengikuti kegiatan2 yang ada dipondok. Awalnya saya merasa sangat terkekang. Semua serba dibatasi. Semua aktifitas diatur. Mau keluar asrama saja banyak persyaratannya Pokoknya sangat beda dengan kehidupan saya saat berada dirumah. Perasaan2 seperti merasa dikekang, tidak bebas, mulai timbul dalam hati.

Namun setelah beberapa waktu berselang, saya baru menyadari bahwa semua aturan atau sytem yang ada dipesantren, semua untuk kebaikan kita para santri. Karena aturan2 yang ada mendidik saya untuk lebih disiplin dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Memang awalnya gak enak, tapi sekarang mulai faham bahwa kita “ DIKEKANG UNTUK MENANG “ karena kita dikekang agar bisa menjadi manusia2 pilihan, yang fokus melayani umat dan taat pada perintah Tuhan.

“Bebas” terkadang membuat kita lalai, lalai akan nilai2 dan arti dari sebuah kehidupan. Maka dari itu saya sebagai santri merasa sangat bersyukur. Karena hidup dilingkungan yang baik. Dikomunitas dimana saat saya melakukan kesalahan langsung dapat teguran. Sehingga tidak berlarut2 dalam kesalahan.

Perasan2 tidak enak seperti terkekang, tidak bebas, hanya berjalan beberapa saat saja. Karena penyesuaian dengan lingkungan yang berbeda. Setelah itu saya kembali ceria. Teman2 yang baik, para ustadz pembimbing yang ramah membuat saya semakin betah diasrama. Seperti dirumah sendiri bersama keluarga.

Terikasih kepada Guru, Ustadz, kakak2 pendamping yang selalu sabar mengasuh, mendidik, membimbing saya menjadi manusia yang lebih berguna. Semoga Beliau2 selalu diberi kesehatan, keamanan, keselamatan oleh Allah Swt. Beribu terimakasih sekali lagi saya haturkan. Karena kami tidak bakal bisa membalas semua kebaikan yang beliau2 berikan.

Teruntuk Ibu dan Bapak. Terimaksih sudah merawat saya sejak kecil, menyayangi, mengasihi. Mengorbankan segalanya untuk saya dan akhirnya memondokkan saya ditempat yang terbaik yakni Pondok Pesantren SPMAA. Terimakasih banyak dan mohon maaf atas segala kesalahan, sering mengecewakan, belum sesuai harapan. 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِوَ الِدَىَّ وَارْ حَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَا نِى صَغِيْرًا

 “Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Baik ibu maupun bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil”

Penulis

Rendi Widodo


Rabu, 13 Mei 2020

" Belajar Memberi Barang Yang Dicintai "

Teringat saat pelatihan Tenaga Penyayang Umat. Saat itu beberapa hari kami digembleng dengan beberapa materi oleh Fasilitator. Ditengah2 pelatihan, kami diberi secarik kertas. Dikertas itu kami disuruh untuk menuliskan menu makanan apa yang kami suka. Iya... Karana bertepatan saat itu kami sedang puasa.

Hati girang, sambil memikirkan menu apa ya kira2 yang paling enak untuk nanti berbuka. Setiap peserta sangat antusias menulis makanan dan minuman apa yang disuka.

Saat itu saya menulis " otak-otak bandeng dan jus jambu ". Emmmm... Ketika menulis sambil senyum2 memikirkan betapa enaknya menu itu untuk berbuka.

picture by Gus Basyirun Adhim 

Sore harinya panitia sudah mulai sibuk menyiapkan menu untuk masing2 peserta. Sesuai dengan pesanannya. Saat adzan magrib tiba, kami cuma berbuka seadanya. Menu utama disiapkan untuk hidangan setelah sholat.

Tiba waktunya untuk menu utama. Kami duduk dikursi masing2 dan panitia pun memberikan menu pesanan kami didalam bungkusan. "Jangan dibuka sebelum aba2", begitu kata panitia.

Saat panitia memberi aba2 , " didalam bungkusan itu, ada makanan yang sampean pesan, tapi juga ada pesan. Tolong dibuka dan dibaca". Kami pun membuka bungkusan dan ada secarik kertas. Dalam hati kami membaca.

Raut gembira, berubah jadi pucat. Kata2 didalam kertas itu seolah2 menyihir kami. " Berikan makanan yang kamu sukai kepada orang yang kamu benci". Begitu isi tulisan di secarik kertas didalam bungkusan tadi.

Sirna semuanya. Kami hanya bisa terdiam. "Tenan tha iki /benaran kah ini" dalam fikiran kami.

Memang materi hari ini adalah memberikan barang yang dicintai. Kami tidak hanya diajak untuk memahami materi, tapi langsung mengamalkan dalam tindakan. Berat memang, namun itu adalah perintah yang harus kami lakukan.

Ada 2 hal yang kami dapatkan dari pengalaman diatas. Pertama sebagaimana yang Rasulullah teladankan agar kita berbuat baik kepada siapa saja bahkan kepada orang yang dibenci sekalipun

أَحْسِنْ إِلَى مَنْ أَسَاءَ إِلَيْكَ

"Perlakukan secara baik orang yang bertindak jahat kepada engkau"
Sekaligus mengikis rasa benci dalam hati. Karena kita tidak punya musuh manusia, musuh kami hanya syetan didada.

Kedua, belajar untuk memberikan barang yang dicintai. Sebagai pengamalan dari firman Allah

لَنْ تَنَا لُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِ نَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu, sungguh Allah Maha mengetahui."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 92)

Pelajaran memberikan barang yang dicintai tidak hanya didalam kelas saja. Namun juga implementasi dikehidupan sehari2. Bapak Guru Muchtar sering sekali meneladani kami dalam bidang ini. Beliau pernah berkisah, dahulu belaiu punya pena. Pena ini sangat beliau sukai. Karena pean itu ada lampunya, sehingga walau dalam kondisi gelap, beliau masih bisa menulis. Dan saat itu termasuk barang langka.

Suatu ketika ternyata ada orang yang suka, lalu pena itu diminta. Awalnya terasa berat, karena itu satu2 yang beliau miliki. Dan tidak ada pengganti nya. Sebelum memberikan pena itu, beliau sholat dua rakaat. Agar beliau bisa dengan senang hati memberikan barang yang dicintai. Akhirnya pena tersebut beliau berikan. Dan masih banyak teladan beliau yang lainnya.

Barang yang dicintai itu relatif. Bisa apa saja. Setiap orang pasti akan berbeda2. Bisa berupa harta, benda atau hal2 lainnya. Nah... Bagaimana kita bisa mengorbankan hal tersebut untuk orang lain, agama atau lingkungan sekitar kita.

Coba kita praktekan. Nanti saat akan berbuka puasa. Menu yang akan kita makan, sisihkan. Lalu berikan pada orang lain. Sebagai media pembelajaran bagi kita. Untuk memberikan barang yang dicintai pada sesama.

Apalagi kondisi saat ini, banyak saudara2 kita yang kekurangan. Minimal kita berempati, kalau punya ya berusaha untuk memberi. Atau mencari cara,usaha2 agar bisa membantu saudara kita yang membutuhkan saat ini.

Bismillah...

" FITRAH BERBAGI "


Sudah menjadi fitrah manusia untuk saling menolong dan berbagi. Sifat fitrah itulah yang menjadikan manusia mahluk yang mulia. Karena bereda dengan sebagian binatang melata. Kucing dirumah saya misalnya, kalau dapat tikus atau makanan. Maka hanya dimakan sendiri, mentok untuk anaknya. Kalau ada kucing lain yang mendekat langsung dicakar.

Karena manusia mulya, maka bila punya rezeky tidak dinikmati sendiri. Namun ada sebagia yang digunakan Untuk berbagi. Ketika kita punya sesuatu pasti dalam hati ada keinginan untuk memberi.


Namun terkadang ada perasaan malu, sungkan, gengsi karena hanya sedikit hal yang bisa diberi. Tapi perlu dipahami, kalau kita memberi dengan ukuran harus banyak, lalu kapan kita akan berbagi? Lawong banyak itu relatif. Dan nanti ujung2 juga tidak memberi. Karena syetan selalu membisik dalam hati manusia untuk melemahkan bahkan menghilang rasa empati dan keinginan untuk terus berbagi.


Tujuan utama syetan adalah menggulingkan derajat mulia manusia. Maka sangat tidak suka, tidak rela bila kita sesama manusia saling tolong, saling membantu, saling berbagi untuk kesejahteraan bersama.


Bila ada keinginan untuk berbagi lakukan segera. Jangan biarkan syetan yang beroperasi dalam dada melemahkan niat baik dalam hati kita.

Dan ingat! Allah SWT berfirman:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْـفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِا لْفَحْشَآءِ ۚ وَا للّٰهُ يَعِدُكُمْ مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ ۖ

"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 268)

Maka berhati-hatilah dengan bujuk rayu syetan. Dan mari bersegera meraih karunia dan ampunan dari Allah dengan berbagi dan menobati dosa pribadi.

Kamis, 26 April 2018

TEKNIK PENYIMPANAN BIJI BENIH


TEKNIK PENYIMPANAN

 Terdapat 4 teknik penyimpanan :
 1. Penyimpanan pada Kadar Air Normal
 2. Penyimpanana pada Kadar Air Tinggi
3. Penyimpanan Vakum
 4. Penyimpanan dengan Modifikasi Atmosfer



1. Penyimpanan pada Kadar Air Normal

• Kadar air dikatakan normal jika biji-bijian tersebut dapat disimpan dengan aman, yaitu pada kadar air 13-14%
 • Prosedur sebelum penyimpanan : - pembersihan - pengeringan - pemberian desinfektan
 • Penyimpanan dapat dilakukan dalam bentuk : - bentuk curah - bentuk silo (metal, kayu) - bentuk karung (goni)
 • Terdapat 4 teknik penyimpanan pada kadar air normal :
 1. ventilasi alami - prinsipnya adalah : pengeluaran uap air melalui jalan yaitu melalui difusi uap air dari biji ke ventilator dan pergerakan udara di antara biji-bijian. - dapat mengeluarkan kelebihan uap air 1-2% - ventilasi cara ini tidak efektif jika kelembaban udara terlalu tinggi

2. ventilasi mekanik - banyak digunakan pada gudang besar, silo besar dan elevator - dapat digunakan untuk mengontrol migrasi uap air dengan cara mendinginkan bijibijian

 3. pergerakan atau perpindahan - prinsipnya adalah : memindahkan biji-bijian dari satu tempat ke tempat lain sehingga terjadi efek pendinginan - dengan cara ini dapat mencampurkan biji yang kering dengan biji yang lembab, maupun yang dingin dengan yang panas - perlakuan beberapa kali dapat mempertahankan pada kadar air normal

 4. pengeringan artifisial - metode ini dilakukan jika kondisi area tidak cocok untuk dilakukan pengeringan secara alami - prinsipnya adalah : pemanasan udara sampai 5-10% dari suhu awal sehingga kelembaban relatif turun 30% dan air keluar dari dalam biji, menyebabkan biji kering. Kuliah IBM 2 pertemuan ke-11 4 Penyimpanana pada Kadar Air Tinggi
• Dilakukan di daerah tropis, sebab keadaan udara basah dengan aw 0,6-0,8 - aw o,6 (batas kritis kadar air minimal pada biji-bijian) - aw 0,8 (ambang bawah dari proses fermentasi)
• Dengan aw diatas 0,8 dilakukan apabila dikehendaki terjadinya proses fermentasi laktik
 • Dengan teknik ini biji yang baru dipanen dapat langsung disimpan tanpa proses pengeringan yang memadai

2. Terdapat 4 teknik penyimpanan pada kadar air tinggi :

 1. stabilitas kimia - dengan penambahan asam-asam organik dan berbagai garam - asam-asam organik meliputi asam propionat, asam benzoat, asam format, asam asetat maupun campuran dari asam-asam tersebut. Asam-asam ini bersifat folatil sehingga terbatas daya hambat mikrobanya. - menyebabkan terjadinya pengkaratan, sehingga tidak efisien

 2. iradiasi dengan sinar gama - memerlukan peralatan canggih sehingga penggunaannya terbatas - dosis yang diijinkan WHO 1000 Krad

3. anaerob ketat - prinsip : penyimpanan dilakukan pada kadar oksigen sangat rendah - dapat dilakukan untuk penyimpanan biji-bijian dengan kadar air tinggi, tetapi paling efektif untuk biji dengan kadar air rendah

4. penyimpanan pada suhu rendah - dilakukan pada suhu di bawah 10oC - diperlukan peralatan khusus dengan biaya mahal sehingga kurang efisien

3. Penyimpanan Vakum

Adalah penyimpanan dalam suatu wadah yang dapat melindungi produk di dalamnya dari pertukaran gas atau air dari luar • Digunakan untuk menyimpan biji dengan kadar air 12-14% • Keuntungan penyimpanan vakum :

1. menyebabkan kerusakan serangga dan binatang kecil lainnya pada saat penyimpanan

2. mencegah masuknya serangga dan binatang kecil lainnya

3. mencegah kerusakan kapang dan timbulnya panas

 4. produk tetap dalam kondisi kering

4. Penyimpanan dengan Modifikasi Atmosfer
• Prinsipnya hampir sama dengan penyimpanan vakum • Modifikasi yang dilakukan dengan menambahkan gas karbon, nitrogen atau dengan campuran CO2 dengan nitrogen, dengan disertai penurunan kadar oksigen • Pada penyimpanan metode ini dapat bertahan hingga 10 bulan dengan mutu tetap dipertahankan.

Selasa, 17 April 2018

Ibroh dari permainan masa kecil


Dulu sewaktu kita masih kecil. Begitu banyak permainan yang menyenangkan. Salah satu permainan yang mungkin hampir setiap anak laki laki lakukan adalah bermain layang-layang. Permainan ini hanya butuh beberapa perlengkapan. Selain dari layang-layang yang menjadi actor utama. Ada benang dan alat penggulung seadanya, bisa potongan kayu atau sekedar kaleng bekas.
Keseruan dari permainan ini adalah,ketikakita bisa menerbangkan layang-layang yang kita miliki jauh lebih tinggi dari pada yang lainnya. Atau saat kita bisa menumbangkan lawan dengan memutuskan benang sang lawan. Namun ada keseruan yang takkalah seru dari semua hal diatas. Yakni ketika ada layang- layang yang putus.
Saat ada laying-layang yang putus. Setiap pasang mata yang menyaksikan  akan segera berteriak “ enek layangan pedot, godak !!!! “  seruan itu ibarat teriakan sang jendral untuk pasukannya agar segera memulai perang, dan anak-anak pun segera lari tunggang langgang untuk mengejar laying-layang.
Hal ini pasti menguras waktu dan tenaga.namun apa hasil yang didapat? Rasa senang dan puas saat berhasil itulah yang didapat. Padahal terkadang satu laying-layang bisa jadi rebutan belasan anak. Lalu apa yang terjadi? Fikir saja sendiri ! anda pasti tau kalau pernah melakukan hal ini.
Saya berani bertaruh bahwa anda akan enggan melakukan hal ini lagi saat sudah menginjak dewasa. Karna kita tau bahwa hal itu hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.
Namun ada  pelajaran yang besar  yang bisa kita ambil dari kisah masa kecil kita ini?
Carut marut urusan dunia yang tak ada habisnya. Semua kebisingan yang terkadang menggoda naluri kita untuk mengikutinya. Seolah olah sudah membutakan mata kita, sehingga sulit membedakan mana prilaku dewasa dan anak TK. Mengaku pengusaha, artis terkenal dan pejabat Negara. Namun tak jauh beda prilaku dan apa yang dikerjakannya dengan prilaku kejar layangan ala anak TK.
Tau bahwa dengan jadi artisakan memangkas kehidupan normalnya. Faham betul bahwa dengan jadi pengusaha akan menyita kesenangan dan waktu bersama keluarga. Dan sudah banyak contohnya bila jadi pejabat yang tak amanah akan berakhir di penjara. Namun semua itu hanya kefahaman seremonial saja.
Buktinya semua kedudukan diatas masih menjadi incaran dan primadona. Ibarat “Ulo marani Gepok” begitu Guru kami BG MA. Muchtar mengisyaratkan orang yang masih sibuk mengejar berebut kenikmatan dan tahta dunia. Ibarat anak kecil yang masih mengejar laying-layang yang pada akhirnya hanya dapat capek saja.
Saat kita melihat para artis, pejabat, pengusaha seolah olah itu sesuatu kenikmatan yang luar biasa. Kesana kemari di hormati. Setiap orang yang lewat permisi. Dikit dikit minta selfi, dan semuaorang pun seolah sangat peduli. Namun dibalik itu ada banyak jertitan hati.
Begitu banyak artis yang bunuh diri dan terjerusmus pada ektasi. Tak kurang contoh para pengusaha yang jadi gila karna hartanya. Dan penjabat yang berakhir di jeruji besi pun selalu menghiasi berbagai media dan televisi.
Jadikan semua ini ibroh wahai saudara saudari. Jangan jadi anak-anak lagi. Yang masih saja mengejar hal sia-sia yang kita sudah tau akan ujung permainannya. Jadilah dewasa. Hidup didunia berbekal sederhana saja, sedangkan yang lainnya ayo di transfer ke rekening akherat kita sebagai jaminan bisa hidup senang, mewah, bahagia selama-lamanya. Semangat usaha, monggo silahkan saja ! namun bukan untuk memenuhi ambisi hidup mewah didunia, melainkan untuk persiapan bekal akherat kita. 

Selasa, 28 Januari 2014

Ikhlas = Sabar = Semangat

     Semua berjalan begitu saja. Seperti mentari yang selalu mengitari bumi. Inilah kehidupan yang trus berputar tiada henti. Membuka stiap jengkal kehidupan yang dulunya tak pernah kita mengerti. Namun kini mulai terkuat seiring berjalannya sang mentari.
     Semakin kita terpuruk, semakin seing kita terlindas roda - roda kehidupan. Gerak semangat menaklukan masa depan, adalah kunci utama kesuksesa. Biarlah kegagalan datang bertubi tubi, hingga tiada tempat untuk kedatangannya lagi.
      Bila saat ini kita terjatuh, yakinlah bahwa kita semakin dekat dengan kesuksesan yang kita idamkan. Seolah orang yang terjatuh kedepan. Maka dia akan semakin dekat dengan apa yang diinginkan. Maka kesabaran adalah kunci dari semangat. Orang yang sabar memiliki daya semangat yang lebih daripada orang yang tak memliki kesabaran. Sabar pun butuh pasangan. Ibarat semangat adalah gembok, sabar adalah kunci, maka Ikhlas adalah Gudangnya. Adagembok, ada kunci kalau gak ada gudangnya buat apa ??? buat mukul orang ??? nah ikhlas inilah yang membuat sabar dan semangat selalu melekat. Maka tumbuhkan rasa ikhlas dalam hati dengan cara belajar Melayani. Melayani orang terdekat kita dan yang ada disekitar lingkungan kita. Mulailah dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil dan mulai dari sekarang untuk menuju perubahan dimasa depan. Dengan aktif melayani. SEMANGAT !!!